Berkendara Untuk Hidup

3 min read

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Sahabat Biru. Selamat pagi, siang, sore, malam, dimanapun Sahabat Biru berada semoga dalam keadaan sehat selalu.

Benkendara. Zaman sekarang , anak SMA yang belum punya SIM sampai anak SD yang masih ingusan, sudah berkendara. Rata-rata mereka bisa mengendarai motor. Mau itu motor gede atau motor matic.

Nah kali ini aku mau menceritakan awal mula aku bisa mengendarai motor, sampai berkendara menjadi hobiku.

 

Awal Mula Mengenal Motor

Source : hipwee

Awal aku mengenal dan menyukai motor itu ada beberapa hal. Yang pertama, Ketika aku kelas 3 Sd ayahku membeli motor bebek kopling. Walau jarak rumah ke sekolahku cukup dekat, aku lebih suka diantar ayahku menggunakan motor.

Dan setiap pulang sekolah aku selalu menunggu kepulangan ayahku. Karena setiap ayahku pulang aku sering di ajak keliling di sekitar perumahanku. Tidak tau kenapa, hatiku rasanya sangat senang jika sedang naik motor.

Dan di setiap hari libur kita pergi jalan-jalan menggunakan motor. Meskipun kita hanya pergi untuk minum es kelapa di pinggir jalan. Tapi bukan tujuannya yang aku tunggu-tunggu. Melainkan sensasi ketika di perjalan dan ketika wajah terkena hembusan angin.

Alasan kedua, ketika aku menonton TV aku melihat siaran balap motor. Balapan nya sangat menarik perhatianku. Tapi ada satu hal yang sangat membuatku tertarik. Yaitu ketika motor-motor itu berbelok, mereka miring sampai 45 derajat. Dan anehnya lagi motor itu bisa berdiri tegak seperti semula.

Hari silih berganti. Aku pun mulai beranjak awal remaja. Aku mulai tertarik untuk mengendarai motor dari pada hanya di jok belakang. Saat itu aku duduk di kelas 5 SD. Aku belum tau bahwa untuk mengendarai motor membutuhkan SIM.

Mulai Mencoba Motor Matic

Source : autonemagz

Karena rasa penasaranku sudah tak terbendung. Aku memutuskan untuk minta di ajarkan mengendarai motor. Ayahku tidak langsung memberikan jawaban “Iya”. Karena pada saat itu motor ayahku masih motor kopling. Dan mungkin ayahku masih takut untuk langsung mengajarkanku motor kopling.

Tapi setelah beberapa bulan kemudian, ayahku membeli motor matic baru untuk ibuku. Alhamdulillah akupun mulai diajarkan mengendarai motor. Karena sebelumnya aku sudah bisa mengendarai sepeda. Jadi untuk menjaga keseimbangannya tidak terlalu sulit.

Yang membuatku kesusahan adalah mengantur tarikan gasnya. Kadang aku terlalu kuat menarik gasnya hingga aku melaju kencang sampai terjatuh. Terkadang juga aku terlalu pelan menariknya sampai tidak kuat menahan beban motor dan akhirnya terjatuh.

Aku sering latihan motor di jalan tanah yang sukup bergelombang. Kata ayahku latiahan di tempat seperti itu agar nanti melewati jalan aspal yang berlubangaku sudah terbiasa.

Hari demi hari sudah berlalu. Luka di badanku sudah terlihat lebih banyak. Tapi itu menandakan bahwa aku sudah mendapatkan penglaman. 1 minggu lebih sudah belalu. Dan Alhamdulillah aku di izinkan mengendarai motor di usaiku yang masih kelas 5 SD.

Setiap pulang sekolah aku selalu meminjam motor pda ayahku untuk sekedar berkeliling komplek. Karena untuk pergi ke kota aku belum di izinkan.

Setelah kenaikan kelas, ayahku dipindah tugaskan ke Riau. Aku pun jadi kurang pengawasan orang tua. Aku mulai diam-diam menggunakan motor untuk pergi ke kota. Tapi syukur aku sampai saaat ini belum pernah ditilang oleh polisi.

 

Mulai Mengendarai Motor Kopling

Source : IDN Times

Setelah berbulan-bulan aku selalu mengendari motor matic, aku mulai tertarik untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Ketika aku mendengar kabar ayahku akan pulang dalam waktu dekat, aku ingin memberinya kejutan. Aku berencana belajar motor kopling sebelum ayahku pulang.

Setelah pulang sekolah aku meminta temanku agar mengajarkanku motor kopling. Aku latihan motor kopling menggunakan motor kopling ayahku.

Menurutku tidak terlalu sulit untuk mengendarai motor kopling. Yang membuatku sulit ya itu mengatur keseimbangan antara gas dan koplingnya. Tapi jika sering melakukannya kita akan terbiasa dengan sendirinya.

Aku dilatih oleh temanku hanya satu hari. Dan tidak pernah melakukan latihan lagi. karena motor ayahku digadaikan oleh ibuku.

Hari-hari telah berlalu. Akhirnya ayahku pulang. Motor kopling ayahku ditebus agar ayah bisa berpergian. Ketika kita mau berpergian aku bilang pada ayahku ingin coba pakai motor kopling. Nah di sini aku mulai unjuk gigi. Aku memperlihatkan keahlianku.

Seperti dugaanku, ayahku terkejut aku bisa mengendarai motor kopling. Untungnya ayahku selalu mendukungku dalam berkendara. Asalkan selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan mengutamakan keselamatan.

 

Memakai Motor Gede

Rasa sukaku terhadap motor semakin bertambah. Karena teman satu bangkuku juga menyukai hal yang sama. Dia bernama Aksal, setiap sekolah dia menggunakan motor maticnya. Karena aku berangkat dengan berjalan kaki. Jadi pulang sekolah aku sering diantar oleh Aksal sampai rumah.

Terkadang sebelum pulang kita pergi menikmati senja di sore hari. Sambil menikmati hembusan angin ketika berkendara. Di hari senin kita sering membicarakan tentang balap MOTOGP . kita menjadi akrab karena motor.

Di kelas 11 semester 2, Aksal Ranking 1 di kelas. Dia di hadiahi motor kopling GSX S 150. Sebagai temannya aku pun ikut senang. Walau Aksal sudah pakai motor baru, Aksal tidak sombong dan masih sering mengantakanku pulang.

Aku pun termotivasi agar bisa seperti Aksal. Aku mulai belajar lebih giat agar masuk Ranking 5 besar di kelasku.

Usaha memenag tidak menghianati hasil. Setelah keanikan kelas. Alhamdulillah aku masuk Ranking 5 besar. Dan aku ditari motor oleh ayahku. Awalnya aku bingung mau memilih motor apa.

Tapi setelah dipikirkan lagi aku memilih motor yang sama dengan Aksal, hanya saja berbeda warna. Sejak saat itu kita jadi sering Riding bersama.

 

Berkendara Untuk Hidup

Aku mulai mendalami kehidupan berkendara. Agar bisa berkendara dengan bebas. Aku pergi ke SATLANTAS (Satuan Lalu Lintas) untuk membuat SIM. Setelah memenuhi persyaratan dan melakukan beberapa tes. Akhirnya sampaijuga di tes mengemudi.

Saking gugupnya jantungku berdebar-debar, nafasku sesak, dan pikiranku tidak karuan. Setelah menenangkan diri aku siap untuk tes terakhir.

Di sana ada lima rintangan.

  1. Jalan Lurus Panjang
  2. ZIGZAG
  3. Angka 8
  4. Jalan Y
  5. Jalan U

Alhamdulillah. Tak disangka-sangka. Aku berhasil melewati itu semua dengan sekali percobaan. Sama seperti Aksal, dia pun berhasil dalam satu kali percobaan. Kita melakukan test resmi tidak ada unsur suap menyuap. Karena untuk menjalani hobi kita harus bersungguh-sungguh melakukannya.

Setelah SIMku jadi, Perasaanku sangat senang sekali. Aku merasa lebih bebas saat itu. Dan sampai saat ini perjalananku untuk berkendara tidak akan pernah berhenti.

 

Catatan : Untuk para orang tua, jangan izinkan anakmu yang masih di bawah umur untuk berkendara. Apalagi sampai dibelikan motor. Biar lah ia menangis untuk saat ini. Dari pada saat ini dia senang dan tertawa sambil mengendarai motor. Tapi suatu saat kau yang akan menangis karena tidak bisa melihat tawa anakmu lagi.


Menyusuri kota dengan berkendara roda dua
Menikmati laju bersama yang tercinta
Terkumpul kenangan untuk kenang yang akan datang
Roda dua itu bergembira ria

  • LYNKSAL
%d blogger menyukai ini: