Menuju Puncak Gede

3 min read

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Sahabat Biru. Selamat pagi, siang, sore, malam, dimanapun Sahabat Biru berada semoga dalam keadaan sehat selalu.

Oke cerita ini adalah kelanjutan dari cerita saya sebelumnya yang berjudul “pendakian Perdana Gunung Gede”. Kalian bisa membaca postingan sebelumnya terlebih dahulu.

Alun-alun Surya Kencana adalah lembah yang terdapat di Gunung Gede. Biasa nya para pendaki mendirikan tenda di sana. Dan di Surya Kencana juga terdapat mata air yang selalu digunakan para pendakai sebagai sumber minum mereka.

 

Sampai Di Alun-alun Surya kencana

Sesampainya di Alun-alun Surya Kencana seorang diri. Saya langsung melakukan sujud syukur. Karena masih tidak percaya kalau saya bisa mendaki Gunung Gede. Saya bersujud sambil mengeluarkan air mata seraya mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta. Perjalanan mendaki menghabiskan sekitar 8 jam. Waktu yang relatif lama.

Di sana saya beristirahat sejenak sambil menunggu teman-teman  yang masih tertinggal di belakang. Ketika beristirahat saya disuguhkan oleh bunga-bunga yang disebut “Si Abadi” yaitu bunga Edelweis. Di sana sangat banyak sekali bunga Edelweis. Bahkan hampir tidak ada bunga lain selain bunga Edelweis.

Walaupun disuguhkan oleh bunga Edelweis.  Saya merasa sedikit takut karena cuaca sedikit  gelap dan sangat berkabut. Dan saya mendengar seseorang  mendekat di balik semak-semak.  Suaranya semakin mendekat.

Dan ternyata yang keluar adalah Dean. Ketegangan saya mulai menghilang. Teman-teman saya masih tertinggal cukup jauh. Jadi kita melanjutkan perjalanan agar bisa langsung mendirikian tenda.

Setelah sampai di titik yang sekiranya cocok untuk mendirikan tenda, kita langsung  menggelar flysheet. Kita berdua langsung berwudu dan menjalankan salat asar di atas  flysheet.

Teman-teman saya yang lain akhirnya sampai, setelah saya dan Dean selesai salat. Kami langsung membuat tenda sembari menunggu teman-teman yang lain salat.

 

Bermalam di Alun-alun surya kencana

Source : DHAVE.ID

Magrib pun tiba. Tidak membuang waktu kita langsung salat magrib berjama’ah. Alat magrib disana memiliki tantangan tersendiri. Kita harus tetap khusyuk sambil melawan kencangnya hembusan angina dan gelapnya malam.

Setelah salat magrib kita pun melanjutkan berdzikir dan mengaji di dalam tenda. Kita semua berusaha agar tidak batal dari wudu. Karena air di sana ketika malam jadi sedingin es. Akhirnya kita memutuskan untuk salat isya di dalam tenda dengan posisi duduk.

Di malam hari membuat api unggun kecil-kecilan sambil memasak mi dan kopi. Ada yang membuat saya terkagum ketika bermalam di sana. Yaitu langit yang indah dipenuhi oleh bintang-bintang. “Masyaallah sungguh besar kekuasaanmu” itulah yang saya katakana ketika memandang langit.

 

Sammit Attack

Sebelum tidur kita semua merencanakan untuk melakukan Sammit Attack. ( Sammit Attack adalah kegiatan yang umumnya di lakukan oleh para pendaki untuk pergi menikmati matahari terbit). Kita berencana melakukan Sammit Attack jam 5 pagi agar masih sempat untuk mengabadikan matahari terbit. Setelah semua terencana kita pergi tidur.

Waktu subuh pun datang kita berusaha untuk bangun dan melawan tajamnya suhu yang dingin. Beruntung teman saya yang bernama Dwi mau mengambilkan kita air untuk berwudu. Kita melakukan salat subuh di atas flysheet.

Setelah salat subuh kita semua bersiap-siap untuk pergi ke Puncak Gede. Tapi sayang angin berhenbus seamakin kencang. Jadi kita menguurngkan niat untuk pergi ke puncak dan lebih memilih menunggu matahari mulai terbit.

Sambil menunggu matahari terbit, kami sarapan terlebih dahulu agar nanti ketika pergi ke puncak kita sudah bertenaga. Matahari pun terbit dan kita mulai pergi mendaki puncak. Jarak Surya Kencana ke Puncak Gede tidak terlalu jauh. Sekitar 15-20 menit. Itupun jika Sahabat Biru tidak beristirahat terlebih dahulu.

Setelah 15 menit pendakian akhirnya kita sampai di Puncak Gunung Gede. Lagi-lagi saya melakukan sujud syukur karena rasa takjub saya melihat kuasa Allah. Kita menikmati keindahannya dengan mengambil beberapa foto di sana.

Ternyata di puncak terdapat warung yang menyediakan beberapa jajanan dan peralatan. Tapi sayang harganya berlipat-lipat lebih mahal dari harga setandar. Wajar saja karena memang tidak mudah agar bisa menikmatin jajanan di Puncak Gede ini.

Di Puncak Gunung Gede terdapat beberapa objek yang menarik. Tempat yang cukup bagus untuk di abadikan.

 

Objek Menarik Di Puncak Gunung Gede

Kawah Putri
Source : Phinemo
  • Kawah Putri

kawah yang mengeluarkan asap. Karena memang Gunung Gede adalah Gunung yang masih aktif. Kawah Putri berada di balik Puncak Gede dari Alun-alun Surya Kencana.

 

  • Tugu Gunung Gede

Tugu ini menjadi Iconic karena berada di Puncak Gede dan bertuliskan ketinggian dari Gunung Gede yaitu  958 m. dpl

 

Source : HitsBanget.com
  • Tanaman Pucuk merah

Tanaman ini seperti daun teh tapi memiliki dan atau pucuk berwarna merah.

Setelah mengambil beberapa foto kita lansungsung turun kembali ke Alun-alun Surya Kencana. Kita makan persediaan nasi terakhir kita. Karena biasanya turun gunung tidak memakan waktu yang lama.

 

Perjalanan Pulang

Kita pun mulai melakukan perjalan pulang jam 10.00 WIB. Kita pulang melewati rute yang sama agar bisa bertemu di titik pemjemputan olah supir angkutan. Saya dan Dean jalan di depan terlebih dahulu agar di bawah nanti bisa langsung dapat sinyal. Karena Dean yang bertugas menghubungi supir angkot untuk menjemput kita.

Tidak terasa saya dan Dean sudah setengah perjalanan. Dan waktu masih menunjukan jam 11.00 WIB. Setelah istirahat sebentar kita melanjutkan perjalanan. Ternyata benar rumor yang beredar di warga sekitar. Bahwa masih ada hewan buas yang berkeliaran.

Ketika di tengah perjalanan kita menemukan bekas cakaran macan yang terlihat di batang pohon. Kita berdua langsung merasa takut, dan mulai berlari. Kita berlari tidak peduli capek atau tidak. Setelah berlari cukup lama Alhamdulillah kita sampai di Gerbang Masuk. Dean pun langsung menelpon angkot agar langsung ke titik penjemputan.

Untuk melepas letih, kita behenti di dekat gerbang masuk. Sambil; menunggu teman yang lain, kita berenang di sungai dekat gerbang masuk. Air yang dingin melpas semua rasa pegal yang mengikat tubuh. Tidak lama kemudian yang lain nya dtang. Mereka menceritakan soal cakar yang mereka lihat. Kita semua jadi merasa ketakutan.

 

Insiden Di Perjalanan Pulang

Source : Pixabay

Setelah istirahat dirasa cukup kita langsung menuju ke titik penjemputan. Ketika itu sepertinya kita misscom dengan angkot yang menjemput kita. Karena titik penjemputannya jadi semakin jauh. Terpaksa kita harus berjalan lebih lama.

Kita pun sampai di titik penjemputan dan langsung pulang menggunakan angkot. Dikarenakan uang iuran masih tersisa, ita memutuskan untuk makan baso sebelum pulang.

Setelah turun dari angkot kita harus menyebrang dulu. Tidak tau saya memang kelelahan atau apa. Tapi ketika menyebrang dan sudah sampai tengah jalan. Saya malah berbalik arah dan menyebabkan insiden tertabrak mobil terjadi.

Ya, saya tertabrak mobil setelah turun dari Gunung Gede. Sesampai nya di rumah, saya langsung di pijat oleh tetangga saya. Alhamdulillah rasa sakit di kaki saya berkurang, tapi saya tidak bisa berjalan dengan baik selama beberapa hari.


Suryakencana

Lembah Luas Dengan Dingin Yang Lugas

Ditaburi Kabut Yang Tipis

Dan Bunga Yang Manis

Walau Harus Menopang Kaki

Kau Akan Terus Ku Daki

Terimakasih Suryakencana

Telah Memberi Kasih Semesta

-LYNKSAL

%d blogger menyukai ini: