Pendakian Perdana Gunung Gede

4 min read

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Sahabat Biru. Selamat pagi, siang, sore, malam, dimanapun Sahabat Biru berada semoga dalam keadaan sehat selalu.

Di sini saya akan sedikit menceritakan tentang pendakian pertama saya ke Gunung Gede. Sebagian dari kalian mungkin pernah mendaki gunung. Biasanya pendakian pertama selalu memberi kesan. Jadi inilah kesan pertama saya mendaki gunung.

Gunung Gede adalah gunung yang berada di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Gunung Gede memiliki arti Gunung yang besar. Gede di ambil dari bahasa Sunda yang memiliki arti besar.

 

Perizinan Orang Tua

Source : Google Image

Pendakian ini dimulai ketika saya mengandai-andai melihat pemandangan di puncak gunung. Beberapa hari kemudian teman saya yang bernama Dean mengajak saya untuk mendaki gunung gede. Tidak piker panjang saya langsung terima ajakan teman saya.

Kita berdua lalu berdiskusi siapa saja yang harus di ajak. Akhir nya kita memutuskan untuk mengajak 5 teman kita. Nama mereka masing-masing adalah Arul, Epul, Diki, Firda, dan Dwi. Saya senang ternyata teman yang saya ajak sangat antusias untuk ikut. Namun sayang Arul tidak bisa ikut dikarenakan dia sedang berada di Pondok Pesantren.

Kita berenam langsung menentukan tanggal keberangkatan. Tanggal pun sudah di tentukan, kita berangkat hari minggu 14 mei 2017  dan pulang senin 15 mei 2017. Kebetulan pada saat itu sekolah saya hari senin diliburkan. Karena ada rapat guru untuk kelulusan kakak kelas.

Ketika tanggal sudah ditentukan saya langsung meminta izin pada orang tua saya. Pada saat itu jantung saya berdebar dengan cepat karena takut di mendapat izin. Akhir nya aku memberanikan diri untuk bilang.

ALHAMDULILLAH….

Saya diizin untuk mendaki gunung. Bukan hanya diizinkan, tapi didukung juga. Ayah saya bilang sudah waktu nya saya melihat dunia. Alasan saya diizinkan karena di situ ada teman saya yang sudah dewasa yang bernama Dean. Mungkin ayah saya percaya kepada dia bisa tanggung  jawab.

 

Persiapan Peralatan

Source : PurnaSarjana

Kita punya waktu satu minggu untuk mempersiapkan peralatan mendaki. Ada sebagian teman saya yang sudah punya peralatan mendaki. Ada juga yang belum punya. Dan saya termasuk salah satu yang belum punya alat-alat mendaki. Dean membuat List peralatan pribadi  yang wajib dibawa

 

List Peralatan Pribadi  Yang Wajib Dibawa

  • Jaket
  • Sarung Tangan
  • Daypack/Tas Besar
  • Baju Ganti
  • Celana Ganti
  • Sepatu
  • Kaus Kaki

Saya langsung membuka tabungan saya dan memberikan uangnya ke ayah saya. Agar dicarikan peralatan mendaki yang murah. 2 hari kemudian peralatan sudah datang. Peralatan yang saya dapat adalah Daypack berukuran 40L dan SleepingBag. Total harganya sekitar Rp. 450.000,00

Lalu saya menyiapkan peralatan standar yang ada di rumah saya. Seperti Sarung Tangan, Jaket, Topi, Baju Ganti, Celana Ganti, dan Sepatu.

 

Persiapan Barang Bawaan

Source : Google Image

Setelah semua peralatan siap. Kita langsung menyiapkan barang bawaan dan perbekalan yang harus dibawa.

List Barang Yang Harus Dibawa

  • Beras 4 Gelas Setiap Orang
  • Mi Instan 4 Bungkus
  • Air Minum 1.5L

Sisa Logistik yang belum dibawa kita membeli nya di pasar. Seperti Penyedap Rasa, Garam, Minyak, MInuman Hangat, Lauk Pauk,  Obat-Obatan, Dll.

 

Survey Trek Yang Akan Di Lewati

Ada beberapa jalur yang kita bisa lewati untuk sampai ke gunung gede. Ada berbagai macam jalur mulai dari yang mudah hingga susah. Dari yang dekat hingga jauh.

 

List Jalur Menuju Gunung Gede

  • Jalur Selabintana
  • Jalur Cibodas
  • Jalur Gunung Putri

Pada kali ini kita mengambil jalur Selabintana karena titik awal pendakiannya cukup dekat dengan rumah kita. Walaupun dekat dengan rumah kita, jalur ini jadi salah satu jalur yang cukup menantang. Karena treknya yang panjang dan di akhir trek ada laur yang sangat terjal.

Dan saya mendengar rumor dari orang-orang yang pernah melewati jalur ini. Katanya masih ada macan liar yang berkeliaran. Dan hewan-hewan liar lainnya. Tapi saya yakin Allah selalu bersama kita.

Setelah diberi izin oleh orang tua, perlatan sudah lengkap, perbekalan sudah siap, dan jalur sudah ditentukan. Kita langsung membooking Simaksi  jalur selabintana. Karena  jika kita tidak membookingnya terkadang jumlah pendakian sudah penuh. Dan kita harus menunggu beberapa hari lagi atau mengubah jalur pendakian.

Kita melakukan booking  online. Agar lebih mudah dan cepat. Kalau tidak booking online kita harus pergi ke Gerbang Masuk Pendakian. Yang di mana itu memakan waktu dan biaya lebih.

 

Perjalanan Menuju Gerbang Masuk

Source : setapakkecil.com

Pada tanggal 14 agustus jam 8 pagi kita kumpul untuk pembagian barang bawaan. Agar semua memikul beban yang sama rata. Sebelum berangkat kami pamit dan melakukan do’a bersama.

Menuju gerbang masuk jalur selabintana memang dekat. Tapi bisa dibilang cukup jauh juga. Maka dari itu kita menyewa angkutan umum yang mana beliau masih tetangga kita. Jadi biaya nya tidak terlalu mahal dan kita bisa request untuk di jemput esok harinya.

 

Mulai Pendakian

Setelah sampai di gerbang masuk kita langsung menuju pos pengarahan. Di sana ada peta yang memperlihat kan seberapa jauh perjalanan kita. Dan kita pun diberi arahan oleh pemandu di sana.

Ada hal yang sedikit memalukan yang terjadi di sana. Yaitu kita hampir batal mendaki karena peralatan kita kurang lengkap. Seperti saya yang memakai sepatu lair bukan sepatu gunung. Dan teman saya yang memakai tas dan sepatu sekolah.

Tapi untung Dean meyakinkan pemandu di sana bahwa kita akan baik-baik saja. Akhirnya kita di izinkan melanjutkan perjalan asalkan  hati-hati. Setelah mendengar arahan dari pemandu kita lansung berdoa dan melakukan pendakian.

Selama di awal perjalan kita sudah disuguhkan dengan jurang di kanan kiri kita. Dan hanya diberi tali kawat sebagai pegangan nya. Alhamdulillah dengan kehati-hatian kita bisa melewati itu. Ada hal yang membuat saya senang. Yaitu ketika berpapasan dengan pendaki lain kita saling membalas senyuman dan sapaan. Itu jarang terjadi jika di perkotaan.

Di perjalan kita sesekali istirahat untuk melepas letih. Tapi sangat disayangkan ada beberapa teman saya yang perokok. Yang awalnya saya ingin menikmati udara pegunungan jadi sedikit terganggu oleh asap rokok. Tapi saya lebih baik mengabaikan itu dan beristirahat agak jauh dari teman saya yang perokok.

Kertika waktu salat dzuhur tiba kita berhenti di jalan yang agak sedikit datar agak bisa salat berjamah. Kami wudu menggunakan air dari pos-pos sebelum nya yang terdapat aliran sungai. Setelah salat kita makan siang dengan perbekalan yang kita bawa dari rumah.  Kita melanjutkan perjalan sekitar jam 13.00 WIB.

 

Akhir Pendakian

Mulai dari sini perjalanan sudah semakin sulit. Banyak batu-batuan yang licin, banyak pacet di mana-mana, dan jalan sudah semakin menanjak. Kita pun jadi sering banyak beristirahat.

Matahari sudah mulai menurun. Tapi kita harus tetap melanjutkan agar tidak terjebak gelapnya malam di perjalanan. kami berniat alat asar di lembah Surya Kencana nanti. Teman-teman saya sudah mulai lelah. Jadi saya  maju  paling depan  agar nanti bisa langsung membuat tenda.

Setelah jauh di depan, saya dihadapkan dengan semak-semak yang tunggu. Ketika saya sendirian jauh di depan. Saya bingung untuk melanjutkan atau menunggu teman-teman. Tapi dari balik semak-semak terdengar banyak orang. Jadi saya optimis untuk melanjutkan. Dan Alhamdulillah setelah keluar dari semak-semak saya sampai di Lembah Surya Kencana.


Kebahagiaan buah dari sebuah perjuangan
Yang lelah,
Yang sukaria,
Dengan menyerah,
Tanpa rebah.
Bahagia itu hasil dari pilihan
Bukan sekedar hadiah dari kehidupan

Sehat selalu perjuangan

  • LYNKSAL
%d blogger menyukai ini: