Sahabat Tanpa Akhir

4 min read

Gunung Gede

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Sahabat Biru. Selamat pagi, siang, sore, malam, dimanapun Sahabat Biru berada semoga dalam keadaan sehat selalu.

Mendaki Gunung Gede lagi?

Engga bosen tuh?

Pendakian kali ini sedikit berbeda.

Kenapa?

Karena pendakian ini sangat spesial untukku. Pendakian ini bersama sahabat terdekatku. Ini menjadi spesial juga karena kita jarang bisa berkumpul. Panggil saja sahabat ku ini Papaw dan Abah.

Di sini aku akan menceritakan dari awal kita mulai berkumpul hingga selesai mendaki gunung.

 

Awal Bisa Berkumpul

Ketika itu sedang liburan akhir tahun. Hari-hari yang membosankan menemani hariku. Terlintas dipikiranku untuk berkumpul bersama sahabatku. Tapi aku malah berfikir “bagaimana kalau mereka tidak bisa? Bagaimana kalau mereka sedang sibuk?”.

Setelah berfikir lama aku pun akhirnya memberanikan diri. Aku menghubungi mereka lewat group WA. “Assalamualiakum. Akhi, dalam waktu dekat ini kita bisa kumpul ga?”. Alhamdulillah mereka menjawab bisa.

Esok harinya kita berkumpul di rumah Abah. Karena rasa rindu yang tak terbendung sampai-sampai aku tak tahu harus berkata apa. Tidak lama kemudian papaw datang dengan membawa makanan ringan untuk disuguhkan.

Di rumah Abah kita berbincang-bincang soal kesibukan. Dan kita membicarakan soal melanjutkan pendidikan kemana.

Ketika di tengah-tengah perbincangan Papaw mengatakan candaan. “kapan dong kita mendaki bersama? Kita kan sudah membecirakan ini sebelumnya Kalo sudah lulus nanti takunya kita terlalu jauh?”

Iya memang setiap kumpul selalu membicarakan itu. Dan selalu tidak jadi karena pasti salah seorang di antara kita ada yang tidak bisa.

Tapi kali ini berbeda. Kita bertiga langsung setuju. Papaw langsung membooking di saat itu juga. Setelah membooking Papaw dan Abah pergi ke ATM untuk mentransfer biaya simaksi. Kita memesan untuk 3 hari kedepan. Jadi persiapan kita hanya 3 hari.

Aku masih tidak percaya hal ini terjadi. Padahal ini adalah pertemuan mendadak. Ini adalah pertama kalinya kita mendaki bersama setelah beberapa kali tidak jadi karena ada halangan.

 

Persiapan Mendaki

Source : PurnaSarjana

Persiapan kita tidak terlalu lengkap. Karena kita hanya dua hari satu malam.

Persiapan logistic

  • Beras 2 gelas
  • Air minum 1.5L / orang
  • Minyak goreng
  • Mi instan
  • Bumbu masak instan
  • Lauk pauk
  • Makanan ringan
  • Obat-obatan

Persiapan peralatan

  • Daypack / Carrier
  • Jaket hangat
  • Sepatu gunung
  • Sarung tangan
  • Peralatan shalat
  • Peralatan masak portable
  • Tenda
  • Flysheet

Sehari sebelum keberangkatan kita menginap di rumah Papaw. Karena rumah Papaw berada di pusat kota, jadi lebih mudah untuk diakses. Di malam hari kita mebagikan beban bawaan. Dan ketika jam sudah menunjukan jam 10 malam ,kita beranjak tidur agar besok tidak terlambat.

 

Perjalanan Ke Pintu Masuk Gunung Putri

Kita bangun jam 4 subuh untuk melakukan persiapan. Ketka kita salat subuh rintik hujan terdengar dari luar masjid. Kita menunggu beberapa saat agar hujan reda. Karena kita berangkat menggunakan motor. Tapi hujan pun tak kunjung reda.

Karena pendakian ini special bagi kita, jadi kita memilih untuk melawan hujan dan tetap berangkat.

Dari Kota Sukabumi sampai Kaki Gunung Putri yang berada di Kota Cianjur memakan waktu 2 jam. Karena kita berangkat pada hari kerja, kita terjebak macet ketika berada di Kabupaten Sukabumi. Di daerah situ banyak orang yang bekerja di pabrik. Itulah penyebab kemacetan.

Karena aku tidak hafal jalannya. Jadi ketika kita terpisah, aku kebingungan. Dan aku pun pada saat itu tidak memiki kuota internet.

Jadi aku memutuskan untuk memacu motorku lebih kencang dan menunggu di pertigaan. Alhamdulillah kita bertemu di pertigaan itu dan melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di Kaki Gunung Putri, kita mecari tempat untuk beristirahat dan memarkirkan motor. Kita bertemu seorang warga yang menawari kita beristirahat dan menyimpan motor kita selama satu malam. Kita dijamu cukup baik dan merasa nyaman.

Si pemilik rumah itu hanya mematok 20 ribu untuk satu motor. Biaya yang cukup murah untuk keaman dan kenyamanan yang diberikan.

 

Perjalanan Mendaki

Alun-alun Surya Kencana
 

Setelah dirasa cukup beristirahat dan hujan mulai mereda. Kita memulai pendakian menuju Pos  1, yaitu pos penukaran simaksi. Di sana kita sedikit diberi arahan oleh penjaganya.

Arahan pun selesai. Kita berdoa memohon keselematan dan langsung melanjutkan perjalan. Di awal perjalanan kita disuguhkan dengan pemandangan perkebunan warga. Di sana banyak sekali perkebunan dari mulai sayuran hingga buah-buahan.

Sekitar 20 menit kita berjalan. Kita sudah sampai  di Pos 2. Yang tadinya kita mau beristirahat di sana akhirnya tidak jadi. Karena terlalu banyak orang yang beristirahat di Pos 2.

Kita melanjutkan perjalan  karena memang  kita belum merasa lelah. Kita bertemu orang-orang yang mendaki dari kota lain. Mereka semua asik, seru untuk diajak ngobrol. Bahkan sampai ada sekelompok yang terus berulang kali bertemu kita.

Kita sudah melewati berbagai pos dan belum istirahat sedikit pun. Sampai Abah bialng dia sudah lelah. Kita beritirahat sambil memakan nasi yang diberi olah ibunya Papaw.

Setelah dirasa cukup kite melanjutkan perjalanan. Jalan semakin menanjak, menandakan perjalanan kita sebentar lagi. Tapi karena jalannya menanjak, kita jadi sering banyak berisitrahat.

Setelah istirahat terakhir perjalanan agak sedikit datar. Tidak lama kemuadian kita keluar dari pepohonan yang artinya sudah sampai di Alun-alun Surya Kencana

 

Sampai Alun-Alun Surya Kencana

Sesampainya di Alun-alun Surya Kencanan kita tidak langsung mendirikan tenda. Kita harus berjalan selama 30 menit agar dekat dengan sumber air.

Perjalanan di Surya Kencana sangat melelahkan. Karena yang tadinya hujan menjadi panas oleh terik matahari. Tapi kita tetap melanjutkan perjalanan karena biar cepat beristirahat di tenda.

Setelah 30 menit, kita sampai di tempat yang di rasa cocok untuk mendirikan tenda. Walaupun tidak terlalu bagus tapi cukup dekat dengan sumber air.

 

Berkemah Di Surya Kencana

Bermalam di Surya Kencana kali ini agak berbeda. Kenapa? Karena tenda yang kita dirikan agak sedikit berlubang. Malam yang tidak mendukung mengguyur kita dengan hujan yang cukup deras. disertai hempasan angina yang sangat cepat.

 

Menuju Puncak

Sepeti biasa, setelah salat subuh kita bersiap-siap untuk Sammit Attack. Tapi lagi-lagi cuaca tidak mendukung kita. Kabut yang tebal menutupi pemandangan  kita.

Akhirnya kita gagal untuk melakukan Sammit Attack. selagi menunggu kabutnya menghilang. Kita membuat sarpan agar nanti bisa langsung menuju Puncak Gede.

Setelah kabut hilang kita bergegas menuju puncak. Perjalanan menuju puncak tidak terlalu lama, yaitu hanya sekitar 15 menit.

Sesampainya di Puncak cuaca sangat cerah. Hujan di awal perjalan kita dan kabut di pagi hari seakan-akan terlupakanoleh indahnya puncak di saat itu.

Di pucak aku bertemu beberapa adik kelas ku di sekolah. Mereka juga mendaki bersama temannya.

Perjalanan Pulang

Di perjalan pulang kita bertemu dengan pamannya Papaw dan berbincang-bincang sebentar. Aku juga bertemu dengan guru basketku yang ternyata teman pamannya Papawa. Perbincangan kita jadi semakin panjang.

Kita pulang di jam yang sama tapi jalan yang berbeda. Paman papaw DKK pulang lewat jalur Selabintana. Sedangkan kita pulang lewat jalur sebelumnya, yaitu Jalur Gunung Putri.

Sampai kita pulang ke rumah masing-masing. Kita masih tidak percaya bahwa kita telah mendaki bersama. Rencana yang sudah di buat ketika awal masuk SMP, telah terlaksana di akhir semester SMA.


Teman Terbaik Tidak Pergi Saat Kita Tidak Baik

Sekarang Kita Menempuh Jalan Yang Berbeda.

Kita Jauh Untuk Waktu Yang Lama,

Tapi Kita Dekat Di Dalam Doa.

Kita Berjuang Untuk Tujuan Yang Sama.

Yaitu Menggapai Ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

  • LYNKSAL

 

%d blogger menyukai ini: