[Terlengkap] 10 Upacara Adat Aceh dan Upacara Adat Perkawinan Aceh

6 min read

upacara adat aceh

Aceh memiliki berbagai macam upacara adat, setiap upacara identik dengan acara makan-makan. Seringkali acara tersebut berlangsung setelah acara seremonialnya atau dinamakan dengan kanduri.

Sekarang ini upacara tersebut masih tetap berlangsung dalam masyarakat Aceh, karena masyarakat membutuhkannya untuk memenuhi tuntutan adat.

Menurut masyarakat Aceh, adat harus dijalankan dan dipenuhi. Selain itu, kita juga harus mematuhinya sebagai salah satu penduduk di dalam lingkup tersebut.

Pada pembahasan kali ini saya akan membahas mengenai beberapa upacara adat yang terdapat di Aceh.

Upacara Adat Perkawinan Aceh

upacara adat perkawinan aceh
acehimage.com

Upacara perkawinan di Aceh tidaklah dilakukan secara sembarangan, melainkan mengikuti aturan-aturan adat yang sudah ditetapkan dan terkadang hanya boleh diiringi oleh musik yang menggunakan alat musik tradisional Aceh itu sendiri.

Berikut tahapan-tahapan upacara adat pernikahan di Aceh:

Upacara Ba Ranub Kong Haba

upacara ba ranub kong haba
majelisadataceh.com

Upacara Ba Ranub Kong Haba ini kita lebih mengenalnya dengan upacara lamaran.

Dalam upacara tersebut pihak keluarga mempelai wanita memberitahukan sekaligus mengundang tetua kampong (Keuchik dan Teungku sagoe berserta istrinya).

Demikian pula turut diundang sanak keluarga yang dekat dan para tetangga.

Maksud dan tujuannya yaitu untuk menunggu kedatang rombongan utusan pihak pria dan sekaligus mendengarkan pembicaraan-pembicaraan kedua belah pihak.

Dalam acara ini ada beberapa hal yang dirundingkan oleh kedua belah pihak, yaitu sebagai berikut:

  • Jeulamee (Mas Kawin). Kebiasaan masalah mas kawin ditentukan oleh orang tua mempelai wanita. Jumlah mas kawin yang berlaku di daerah Kabupaten Aceh barat yaitu berkisar antara 10-20 Mayam Emas.
  • Penentuan waktu yang baik untuk Meugatib/menikah dan bersanding (walimah).
  • Dan hal-hal lain yang dirasa perlu sehubungan dengan upacara berlangsungnya perkawinan tersebut.

Upacara berlangsung dalam suasana yang diliputi adat. Baik tutur kata, sikap, sajian makanan, dan kedaan ruangan di seluruh rumah.

Upacara Jak ba Tanda

Jak ba tanda adalah tahapan upacara yang dimana, jika lamaran si pria diterima oleh pihak wanita mereka akan melangsungkan pertunangan.

Upacara Peukong Haba

Setelah itu pihak pria akan datang kembali untuk melakukan pembicara mengenai waktu yang bagus untuk melaksanakan pernikahan.

Upacara Jeulame

Dalam pembicaraan tersebut juga akan dibicarakan berapa besar uang mahar yang diterima. Di Aceh, uang mahar dapat ditentukan oleh pihak wanita dan setiap wanita memiliki nilai minimumnya sendiri.

Jumlah mahar biasanya akan disesuaikan dengan kebiasaan dan biaya hidup si wanita. Tapi hal itu tetap sesuai rundingan bersama pihak keluarga.

Pesta Pelaminan

pesta pelaminan aceh
islam.nu.or.id

Sebelum pesta perlaminan dilangsungkan, ada tiga hari tiga malam diadakannya upacara meugaca atau boh gaca (memakai inai) untuk pengantin laki-laki dan pengantin perempuan.

Adat ini kuat dipengaruhi oleh budaya india dan arab. Namun sekarang adat ini telah bergeser menjadi pengantin perempuan saja yang menggunakan inai.

Setalah siap, kemudian dilakukan persiapan untuk ijab kabul. Dahulu ijab kabul dapat dilakukan di meunasah musala dekat rumah atau di KUA tanpa dihadiri pengantin wanita.

Belum berkembang seperti sekarang dengan ijab kabul yang dilakukan di Mesjid-Mesjid besar yang dihari kedua mempelai berserta keluarga dan undangannya.

Ijab Kabul pengantin pria dihadiri oleh wali nikah, penghulu, saksi, dan pihak keluarga.

Pesta pelamina dilakukan setelah melangsungkan ijab kabul sang calon pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan.

Pesta bisa dilakukan pada hari yang sama maupun pada hari yang lain, upacara itu disebut juga acara tueng linto baro.

Upacara Idang Dan Peuneuwoe

Upacara Idang Dan Peuneuwoe
aceh.tribunnews.com

Idang dan Peunuwoe adalah  hidangan yang diberikan oleh pihak pengantin yang satu kepada pihak mengantin yang satunya.

Biasanya ketika mengantarkan mempelai pria, para rombongannya membawa idang untuk mempelai wanita berupa pakain dan kebutuhan sehari-hari.

Sedangkan pada saat pengantaran mempelai wanita, rombongan akan membawa kembali talam yang tadinya dipenuhi barang-barang tersebut dengan makanan khas Aceh.

Talam yang di berikan biasanya berjumlah ganjil. Pasangan baru ini diwajibkan membawa makan jika ke rumah kerabatanya saat memulai puasa dan lebaran pertama.

Adat tersebut terus erlangsung hingga sang istri melahirkan sang anak, makan mertua akan membawakan makanan dan sang istri membalasnya.

Upacara Peusijuek

peusijuek
negerikuindonesia.com

Peusijuek merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh yang masih dilestarikan dan dipraktekkan.

Peusijuek ini sebagai sebuah budaya yang telah melekat dengan agama Islam, khususnya masyarakat Islam di Aceh.

Peusijuek ini adalah adat istiadat Aceh yang berasal dari India juga, namun sudah dilengkapi dengan budaya Islam.

Peusijuek dilakukan untuk memberi semangat, doa, dan restu kepada orang yang dituju.

Pada pernikahan maka kedua belah pihak keluarga akan melakukan Peusijuek ditiap peluang. Biasanya sebelum dan sesudah ija kabul, kompilasi dipelaminan di kedua acara.

Peusijuek adalah salah satu tradisi Aceh yang dilakukan pada kegiatan apapun seperti naik haji, ibu yang hamil, mempergunakan barang baru seperti rumah atau kendaraan, bayi yang naik tanah, dan sebagainya.

Upacara Meugang

upacara meugang aceh
kaltim.idntimes.com

Masayarakat Aceh dalam menyambut hari raya Idul Fitri atau lebaran biasanya mengadakan tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga dan yatim piatu.

Tradisi yang disebut oleh Masyarakat Aceh ini dengan nama Meugang yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu secara turun-temurun.

Meugang atau Makmeugang adalah adalah tradisi menyembelih kurban yang dilaksanakan pada setiap Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.

Hewan yang disembelih antara lain:

  • Sapi
  • Kambing
  • Domba

Tradisi ini biasanya berlangsung 1 hari menjelang Lebaran. Biasanya masyarakat memasak daging ini dirumah dan membawanya ke Masjid untuk dimakan bersama dengan warga lainnya.

Upacara Peutron Aneuk

Upacara Peutron Aneuk
pixabay.com

Peutron aneuk adalah membawa bayi turun ke tanah denga suatu tradisi atau ritual yang dilakukan masyarakat Aceh.

Arti dari istilah Peutron aneuk ini ialah menurunkan bayi dari rumah ke tanah. Pada umumnya, rumah masyarakat tempo dulu merupakan rumah panggung.

Tidak seperti rumah-rumah masa kini yang designnya sangat futuristik dan kekinian. Contohnya seperti pada situs Avantela yang membahas mengenai designdesign rumah yang mengagumkan.

Peutron aneuk mulai dilaksanakan pada hari ke 7, 14, 21, dan seterusnya menurut kemampuan keluarga si bayi.

Tapi kebiasaan pada masyarakat Aceh Besar melaksanakan acara Peutron aneuk pada hari 43 atau 44 dari hari kelahiran si bayi. Beberapa bahan persiapan dalam proses acara peutron aneuk:

  • Kelapa Tua

Kelapa tua digunakan ketika si bayi diturunkan atau diinjakkan kaki ke tanah. Kemudian dibelah kelapa tua dan airnya disiramkan ke kepala si bayi.

  • Kelapa muda

Kelapa muda digunakan untuk memasukkan rambut si bayi setelah dicukur. Kemudian kelapa tersebut diletakkan di atas sumur selama sebulan lamanya.

  • Alat Peusijuk

Alat peusijuk digunakan untuk ‘menepung tawari’ si bayi. Bahan-bahan yang digunakan untuk peusijuk antara lain oen seunejuk, neleung sumboe, manek mano, tepong bit, padi yang dicampur beras, ketan kuning dan air.

Pesijuk dilakukan sebelum cuko ok atau pemotongan rambut oleh bidan desa tersebut dan sekali lagi dilakukan oleh Syekh Marhaban.

  • Buah-Buahan

Buah-buahan digunakan untuk mengecapkan pada lidah si bayi, buah yang digunakan  ada 3, 5, sampai 7 macam buah di antaranya buah apel, salak, semangka, anggur, dan lain-lain.

Setelah menyiapkan bahan untuk melakukan proses Peutron Aneuk, mulailah para anggota marhaban membacakan marhaban.

Pembacaan marhaban baik untuk bayi laki-laki maupun perempuan dibacakan oleh kaum wanita yang menjadi anggota marhaban tersebut.

Ketika marhaban akan dilakukan, si bayi diletakkan di tengah-tengah anggota marhaban. Dalam bacaan marhaban ada beberapa hal yang dilakukan dan dibaca yaitu:

  • Membaca istigfar sebanyak 3 kali
  • Shalawat kepada nabi
  • Asmaul husna
  • Barzanji

Ketika Barzanji dibaca, si bayi dipeusijuk dan dipeucicap oleh Syekh Marhaban, kemudian diberi sedekah oleh beberapa orang yang menghadiri acara peutron aneuk.

Kemudian Syekh marhaban menggendong si bayi untuk mengelilingi para anggota marhaban yang diikuti oleh ibu si bayi atau biasa disebut ‘peulingka ka’bah’.

Lalu si bayi dikeluarkan dari rumah untuk memulai proses ritual utama, yaitu menginjakkan kaki si bayi ke tanah.

Ketika kaki si bayi sudah dipijakkan lalu bayi dimandikan dan kemudian diwudhukkan.

Setelah itu dibelah lah kelapa tua oleh salah satu anggota marhaban, setelah kelapa tua dibelah kemudian disiramkan ke kepala si bayi dalam keadaan bayi digendong dan dipayungkan oleh Syekh Marhaban.

Kemudian kelapa yang sudah dibelah tersebut diletakkan di sisi sebeleh kanan dan sebelah kiri rumah si bayi.

Setelah ritual tersebut si bayi dikenakan pakaian baru atau seunalen. Terakhir si bayi diletakkan kembali ke dalam ayun di antara anggota Marhaban dengan membaca kalimat tahlil.

Upacara Samadiyah

upacara samadiyah
internasional.republika.co.id

Samadiyah adalah upacara yang dilakukan untuk mendoakan orang yang telah meninggal.

Warga Aceh biasanya melakukan upacara ini selama tujuh malam berturut-turut setelah wafatnya almarhum/ah.

Samadiyah pertama biasanya dilakukan setelah shalat magrib berjamaah di masjid dekat tempat tinggal sang mendiang. Kemudian samadiyah ketiga dan seterusnya dilakukan di rumah duka.

Para tamu yang hadir biasanya membawakan buah tangan untuk ahli keluarga yang sedang berduka.

Sebelum berdoa, para tamu akan disuguhi makan malam bersama. Tidak seperti hari-hari lain, samadiyah ketuuh biasanya akan lebih ramai dikunjungi oleh kerabat dan juga tetangga.

Upacara Tulak Bala

upacara-adat-tolak-bala-
antarafoto.com

Setiap akan dilaksanakan ritual tolak bala, ‘perangkat adat’ dan ‘hukum gampong’ melakukan musyawarah, ini dilakukan hanya untuk formalitas saja.

Prosesi tolak bala dilakukan dengan cara berdoa bersama-sama pada malam hari di meunasah, dayah, dan mesjid.

Pada siang hari seluruh masyarakat pergi ke sungai, pantai, ataupun pemandian dengan membawa bekal makanan.

Makanan ini disimpan terlebih dahulu karena akan dimakan secara bersama-sama dan menunggu perintah dari teungku untuk memulai memakannya.

Setelah masyarakat berkumpul semua, maka ritual tolak bala dimulai dengan sekelompok laki-laki dewasa, yang dipimpin oleh Teungku Imum Cik membaca al Quran, sejak jam 10.00.

Surat yang dibaca Al Baqarah (sapi betina), Al Kahfie (gua) dan Yasin. Dua surat pertama tidak dibaca seluruh surat, hanya sekitar tiga sampai empat halaman.

Setelah selesai baca Surat Yasin, baru dilanjutkan dengan baca tahlil. Namun sebelum tahlil ada sesaji khusus yang harus dihanyutkan ke sungai dengan rakit batang pisang yang dihias dengan daun kelapa muda (janur).

Sesaji itu berupa kepala kerbau yang dipotong ditempat upacara, ayam warna putih, nasi putih dan kuning, gulai ayam, jeroan ayam hati dan lainnya.

Sesaji itu kemudian dibacakan doa yang dipimpin oleh seorang teungku atau pemangku adat dengan membacakan doa-doa yang relevan dengan tolak bala.

Pada akhir prosesi Tulak Bala dilakukan doa bersama, kemudian kenduri berupa makan. Setelah itu dilakukan ritual mandi kembang dan wangi-wangian dari bunga yang terdapat di lingkungan mereka.

Upacara Troen U Blang

Upacara Troen U Blang
pixabay.com

Upacara adat Troen U Blang atau dengan nama lain turun ke sawah adalah salah satu upcara adat yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Aceh.

Nilai kekeluargaan yang tumbuh menjadi begitu kental terasa di sawah dan terbawa pula sampai ke lingkungan rumah dan sosial masyarakat.

Makna lain dari pelaksanaan upacara adat ini sebagai pertanda bahwa tanah atau lahan pertanian telah siap menerima benih baru dan masa tanam dapat segera dilaksanakan.

Petani dengan serentak menggarap persawahannya. Mulai dari masa semai benih, masa tanam, masa panen, waktu mengeluarkan zakat bahkan hingga menikmati hasilnya juga secara serantak.

Upacara Troen U Laoet

Upacara Troen U Laoet
pixabay.com

Upacara adat Aceh yang terakhir adalah upacara adat beruapa syukuran atau semacamnya yang dilakukan ketika musim melaut tiba.

Tujuan dari upacara ini adalah tidak lain dan tidak bukan untuk bersyukur dan berharap agar hasil tangkapan ikan di laut melimpah.

Orang-orang yang melakukan upacara ini biasanya para nelayan dengan mengundang tatangga terdekatnya. Tapi tidak jarang juga dilakukan bersama dengan nelayan lainnya.

Adat di atas adalah adat yg biasa dilakukan suku Aceh. Hal ini merupakan tradisi atau kebiasaan yang tidak pernah hilang di dalam budaya Pidie, Aceh Besar, Bireuen, dan sekitarnya.

Untuk daerah timur dan sekitarnya yaitu untuk suku-suku lain, mungkin ada beberapa yang berbeda.

%d blogger menyukai ini: