3 Upacara Adat Sumatra Barat Yang Menggunakan Hewan

4 min read

Upacara Adat Sumatra Barat - Tradisi Pacu Itiak

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Sahabat Biru. Selamat pagi, siang, sore, malam, dimanapun Sahabat Biru berada semoga dalam keadaan sehat selalu. Kali ini saya akan membahas beberapa Upacara Adat Sumatra Barat.

Sumatra Barat adalah provinsi yang memiliki Ibu Kota Padang. Selain terkenal dengan Masakan Padangnya. Sumatra Barat juga memiliki upacara adat yang unik.

Banyak tradisi yang tumbuh dan berkembang di daerah ibukotanya Padang ini, baik dari zaman dahulu sampai saat ini. Masyarakat setempat terus melestarikannya sebagai bentuk kecintaan.

Upacara adat yang dibahas di sini adalah upacara yang menggunakan hewan. Penggunaan hewannya masih terbilang wajar. Walaupun ada sedikit hewan yang tersakiti, tapi tidak sampai menganiaya hewan tersebut.

Pacu Jawi

Upacara Adat Sumatra Barat - Tradisi Pacu Jawi
goodnewsfromindonesia.id

Pacu Jawi jika kita lihat sekilas akan terlihat seperti tradisi Karapan Sapi dari daerah Madura. Waulpun terlihat sama, kedua tradisi ini memiliki perbedaan tersediri. Jika Karapan Sapi dilakukan di lahan sawah yang kering, Pacu Jawi ini dilakukan di sawah yang basah dan berlumpur.

Ada perbedaan yang ekstrim di kedua tradisi ini. Jika Karapan Sapi menggunakan tongkat untuk mempercepat laju sapinya, Pacu Jawi menggigit ekor sapi untuk menanmbah kecepatannya.

Pacu Jawi dilakukan di daerah Kabupaten Limapuluh Kota dan Payakumbuh.Tradisi Pacu Jawi juga merupakan tradisi unik yang dilakukan masyarakat Tanah Datar. Khususnya untuk masyarakat di kecamatan Sungai Tarab, Rambatan, Limo kaum, dan Pariangan.

Sejarah

Pacu mempunyai arti lomba kecepatan dan di Sumatera Barat sapi biasa disebut dengan Jawi. Jadi jika di artikan Pacu Jawi adalah Lomba Balap Sapi.Kegiatan Pacu Jawi merupakan permainan tradisional anak Nagari (Desa) yang lahir dan berkembang di Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat.

Kegiatan Pacu Jawi menjadi sarana hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Kegiatan ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan sebelum Indonesia merdeka sekalipun tardisi ini sudah sering diadakan.

Dulunya, acara ini hanya diadakan dua kali setahun. Akan tetapi, siklus panen yang semakin pendek memungkinkan acara ini diselenggarakan dengan lebih sering lagi

Pacu Jawi biasanya dilaksanakan ketika beberapa hari setelah panen padi dan menunggu penanaman selanjutnya. Menurut adat yang ada, salah satu syarat mengadakan Pacu Jawi adalah Gunung Marapi harus terlihat jelas.

 

Pelaksanaan

Pelaksanaan Pacu Jawi di Kabupaten Tanah Datar dilaksanakan secara bergiliran pada empat kecamatan. Satu kali putaran lomba biasanya empat minggu, ada yang setiap hari Rabu dan ada pula pada setiap hari Sabtu.

Sebuah acara paju jawi dapat diikuti ratusan sapi, termasuk sapi dari nagari tuan rumah maupun dari nagari-nagari lainnya. Sapi yang digunakan adalah sapi jantan berusia 2 sampai 13 tahun.

Setiap peserta, yaitu sepasang sapi yang dikendalikan oleh seorang joki. berlari berpasangan dengan diikat ke sebuah alat bajak dari kayu. Sapi-sapi ini terlatih untuk mulai berlari saat diberi aba-aba yaitu saat alat bajak yang terikat sudah menyentuh tanah dan diinjak seseorang.

Lintasan yang digunakan adalah sawah kosong bekas panen yang masih basah dan berlumpur. Panjang lintasan berbeda-beda, ada yang 60 meter, 100 meter, hingga 250 meter. Kedalam lumpur biasanya 30 cm.

Bagian atraksi seru dari Pacu Jawi ini adalah ketika para sapi susah dikendalikan, sehingga joki sering jatuh dan masuk ke lumpur. Lumpur sering menyiprat kepada para penonton, tapi itu lah yang membuat para penonton semakin antusias.

Tidak ada pemenang yang dinyatakan secara resmi, tetapi penonton umumnya menilai sapi-sapi ini berdasarkan kecepatan, kekuatan, dan kemampuan berlari lurus.

Selain itu, sapi-sapi yang dinilai baik oleh penonton dapat meningkat nilai jualnya hingga dua atau tiga kali lipat harga biasa. Keuntungan finansial ini adalah salah satu motivasi penting untuk para peserta.

Makna

filosofi dari Pacu Jawi ini adalah pemimpin dan rakyat bisa berjalan bersama. Inilah kenapa sapi yang digunakan berjumlah 2 ekor. Menurut tradisi, kemampuan berlari lurus ini penting untuk mengajarkan filosofi bahwa yang paling dapat dihargai, adalah yang dapat mengikuti jalan yang lurus.

Pacu Itiak

Tradisi Pacu Itiak
lapisnantigo.com

Upacara Adat Sumatra Barat yang selanjutnya adalah Pacu Itiak atau kalau diartikan kedalam bahasa adalah Balap Bebek. Tidak seperti acara pacuan lainnya, Pacuan Itiak ini menggunakan bebek sebagai hewan pacunya.

Pacu Itiak merupakan salah satu adat anak nagari yang bisa dibilang acara satu-satunya didunia yang turun temurun sejak tahun 1028.

Pacu itiak sendiri berasal dari Payakumbuh, kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat.

Sejarah

Sejarah Tradisi Pacu Itiak ini tidak terlalu istimewa. Tidak ada kejadian khusus terciptanya adat atau tradisi ini.

Saat itu para petani di Aur Kuning, Payakumbuh, Kanagarian dan Sicincin menghalau itik yang memakan tanaman padinya. Itik-itik yang dihalau akan terbang ke dataran sawah yang lebih rendah di bawahnya.

Itik-itik terbang ini menjadi hiburan tersendiri bagi para petani. Lalau para petani dan warga berinsiatif untuk mengadakan lomba balap itik. Terciptalah Pacu Itiak ini.

Dari waktu ke waktu berbagai cara dilakukan guna membuat itiak dapat terbang di daerah dataran. Upaya tersebut akhirnya berhasil.

Keseriusan masyarakat kota Payakumbuh akhirnya membuat olahraga ini tidak semata dilakukan di sawah atau dataran biasa. Melainkan melakukan Pacuan di dalam sebuah gelanggang.

Pelaksanaan

Acara ini dilakukan untuk menguji bebek siapa yang bisa memenangkan pertarungan. Aneka hadiah menanti bagi mereka yang para pemenang.

Media yang digunakan sebagai media pacuan adalah sawah dan dalam perkembangannya, masyarakat membuat sebuah gelanggang khusus untuk tempat itik-itik berpacu.

Ada beberpa peraturan dalam pacuan ini.Salah satu peraturan umumnya adalah usia itik itu harus berkisar 4 sampai 6 bulan serta sayapnya tidak boleh berpilih dan arah sayapnya harus keatas.

Panitia perlombaan biasanya langsung pemerintah setempat atau juga komunitas dari masyarakat. Melihat besarnya animo masyarakat dalam pacu itiak ini maka Pacu Itiak dikelola secara profesional dan dibentuk Persatuan Olahraga Pacu Itiak (PORTI).

Makna

Pacu Itiak ini tidak memilki makna yang begitu berarti, karena tradisi ini hanya untuk hiburan semata.

Baburu Babi

Tradisi Baburu Babi
destinasian.co.id

Baburu Babi ( berburu babi) adalah salah satu Tradisi Adat Sumatra Barat lainnya. Berburu babi dengan menggunakan anjing merupakan tradisi yang berkembang sejak dulu di Minangkabau.

Tradisi ini  telah memiliki kelompok besar yang bernama Porbbi (Persatuan Olahraga Buru Babi Indonesia). Biasanya setiap akhir pekan kelompok ini berburu terutama di hari libur.

aktivitas berburu babi masih terpelihara dengan baik, karena hingga saat ini bentuk permainan rakyat itu terus diwariskan turun-temurun dari satu generasi ke generasi. Di setiap daerah, sampai ke tingkat nagari dan jorong kini terdapat organisasi Porbbi.

Sejarah

Sejarah terjadi tradisi ini adalah karena banyaknya hama babi yang menggagu perkebunan warga. Oleh sebab itu diadakan perburuan ini. Uniknya yang berburu bukan lah manusia. Melainkan anjing-anjing yang sudah terlatih untuk berburu babi.

Pelaksanaan

Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh kaum muda. Tradisi Baburu Babi atau Berburu Babi meruapakan kebiasaan yang sudah turun temurun ada di kalangan masyarakat Minangkabau.

Pemilihan waktu Berburu Babi dilaksanakan setiap akhir pekan dan berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya. Hasil buruan biasanya dijadiakan santapan anjing mereka, karena bagi masyarakat Minang yang mayoritan beragama islam memakan babi itu haram.

Makna

Dalam buru babi banyak hal yg bisa didapatkan para pemburu. Ada nilai kerjasama, kebersamaan dan gotong royong disini. Hal ini juga lah yang memcerminkan kearifan budaya minangkabau yang memiliki nilai-nilai yang terkandung disetiap keunikan budayanya.

%d blogger menyukai ini: